Palak Siring, Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Rabu, 7 Januari 2026, menjadi saksi sebuah peristiwa penting dalam perjalanan panjang pertanian Indonesia. Di hamparan lahan terbuka yang sederhana namun sarat makna, ratusan petani berkumpul dalam suasana penuh syukur untuk merayakan tercapainya swasembada pangan beras, sebuah capaian strategis nasional yang terakhir kali dirasakan bangsa ini pada tahun 2008.
![]() |
Tumpeng sebagai wujud syukur |
Kegiatan Syukuran Swasembada Pangan Beras ini bukan sekadar seremoni. Ia
adalah penanda keberhasilan kerja kolektif petani, penyuluh, pemerintah daerah,
aparat keamanan, serta kebijakan nasional yang berpihak pada sektor pertanian.
Lebih dari 300 orang petani hadir dalam kegiatan tersebut, bersama Dinas Pertanian Kabupaten Bengkul Utara, Camat Arma Jaya,
unsur Polres Bengkulu Utara, Kodim Kabupaten Bengkulu Utara, perangkat kelurahan, serta
pemangku kepentingan sektor pangan lainnya seperti para Koordinator Penyuluh Balai Pertanian Kecamatan di Wilayah
Kabupaten Bengkulu Utara.
![]() |
Syukuran Swasembada Beras dihadiri Unsur Pemertintah, TNI dan Polri |
Sejak pagi hari, suasana kebersamaan telah terasa. Para petani datang dari
berbagai hamparan sawah di Arma Jaya, membawa
semangat, harapan, dan rasa bangga atas hasil jerih payah mereka selama satu
musim tanam terakhir. Di tengah tantangan perubahan iklim, fluktuasi harga, dan
tekanan biaya produksi, keberhasilan mencapai swasembada beras menjadi bukti
nyata bahwa pertanian Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat.
Ungkapan Syukur dari Sawah: Makna
Simbolik dan Spiritualitas Petani
Rangkaian kegiatan syukuran diawali dengan prosesi simbolik pembawa
hidangan hasil bumi, sebuah tradisi yang merepresentasikan rasa terima kasih
petani kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah. Hidangan yang
ditata rapi dan ditutup tudung saji mencerminkan kesederhanaan sekaligus
kekayaan makna budaya agraris masyarakat Bengkulu Utara.
![]() |
Petani sebagai motor utama swasembada pangan beras |
Prosesi ini menggambarkan bahwa swasembada pangan bukan hanya persoalan statistik produksi atau angka surplus nasional, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan sosial masyarakat tani. Bagi petani, padi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan sumber kehidupan, martabat, dan keberlanjutan keluarga.
Momentum ini juga menjadi ruang refleksi bersama: bahwa keberhasilan panen
hari ini adalah hasil dari proses panjang—mulai dari pengolahan lahan,
penyediaan benih unggul, pengairan, pemupukan, hingga pengendalian hama—yang
semuanya memerlukan kerja keras dan konsistensi.
Tertib Administrasi dan Partisipasi
Petani
Di sela-sela kegiatan, terlihat proses pendataan dan administrasi petani
penerima program pangan. Aktivitas ini menegaskan bahwa keberhasilan swasembada
beras juga ditopang oleh tata kelola pertanian yang semakin tertib dan
transparan. Petani dilibatkan secara aktif dalam sistem pendataan, memastikan
bahwa program bantuan dan kebijakan benar-benar tepat sasaran.
![]() |
Para Penyuluh Pratanian Lapangan Pengawal Swasembada Pangan Beras |
Interaksi langsung antara petani dengan petugas lapangan dan pendamping pertanian mencerminkan model pembangunan pertanian yang partisipatif. Tidak lagi bersifat top-down semata, tetapi melibatkan petani sebagai subjek utama pembangunan. Inilah pendekatan yang terbukti efektif dalam menjaga produktivitas sekaligus keberlanjutan sektor pangan.
Dukungan Lintas Sektor: Negara
Hadir di Tengah Petani
Puncak acara berlangsung di bawah tenda besar yang dipenuhi ratusan
peserta. Kehadiran unsur Dinas
Pertanian Kabupaten Bengkulu Utara, pemerintah Kecamatan Arma Jaya, TNI dari Kodim Bengkulu Utara, dan Polri dari Polres Bengkulu Utara menunjukkan
bahwa swasembada pangan adalah agenda bersama lintas sektor. Aparat keamanan
tidak hanya hadir sebagai pengaman kegiatan, tetapi juga sebagai mitra
strategis dalam menjaga stabilitas wilayah dan kelancaran aktivitas pertanian.
![]() |
Swasembada Pangan Beras Keberhasilan semua sektor |
Camat Arma Jaya dalam sambutannya menegaskan bahwa keberhasilan swasembada beras di wilayah ini adalah hasil sinergi antara kebijakan nasional dan kerja nyata di tingkat tapak. Ia mengapresiasi peran petani yang tetap setia menggarap sawah di tengah berbagai tantangan, serta peran penyuluh dan aparat yang terus mendampingi.
“Ketahanan pangan adalah fondasi ketahanan daerah dan nasional. Ketika
petani sejahtera dan produksi terjaga, maka stabilitas sosial juga akan kuat,”
ujarnya.
Capaian Nasional di Era Menteri
Pertanian Amran Sulaiman
Syukuran ini memiliki makna strategis yang lebih luas karena dilaksanakan
pada momentum pencapaian swasembada beras nasional di era Menteri Pertanian
Andi Amran Sulaiman. Capaian ini menjadi tonggak sejarah baru, mengingat
Indonesia terakhir kali mencatat swasembada beras pada tahun 2008, saat Menteri
Pertanian dijabat oleh Anton Apriantono.
Selama lebih dari satu dekade, Indonesia menghadapi dinamika kompleks dalam
sektor pangan: pertumbuhan penduduk, alih fungsi lahan, perubahan iklim
ekstrem, hingga ketergantungan pada impor. Oleh karena itu, keberhasilan
kembali mencapai swasembada beras bukanlah hal sederhana, melainkan hasil dari
reformasi kebijakan pertanian yang menyeluruh.
Di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, berbagai langkah
strategis dijalankan, mulai dari penguatan distribusi pupuk, peningkatan akses
benih unggul, modernisasi alat mesin pertanian, hingga penguatan peran petani
dan kelembagaan tani. Capaian ini sekaligus membuktikan bahwa Indonesia mampu
berdiri di atas kekuatan pangan sendiri.
Bengkulu Utara dalam Peta Ketahanan
Pangan Nasional
Keberhasilan swasembada beras nasional tidak terlepas dari kontribusi
daerah, termasuk Kabupaten Bengkulu Utara. Wilayah ini memiliki potensi lahan
sawah yang cukup luas, didukung oleh sistem irigasi, semangat petani, serta
kebijakan daerah yang mendorong produktivitas pertanian.
![]() |
Nuryani, Koordinator Penyuluh BPP Arma Jaya |
Kelurahan Kemumu dan desa-desa lain di Kecamatan Arma Jaya menjadi contoh bagaimana desa dan kelurahan dapat berkontribusi nyata terhadap agenda besar nasional. Produksi beras yang stabil di tingkat lokal menjadi penyangga penting bagi ketahanan pangan nasional, sekaligus memperkuat ekonomi pedesaan.
Lebih jauh, keberhasilan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan
petani. Swasembada tidak boleh berhenti pada angka produksi, tetapi harus
diikuti dengan harga gabah yang adil, akses pasar yang baik, serta perlindungan
terhadap petani kecil.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Syukuran swasembada pangan beras ini bukanlah titik akhir, melainkan awal
dari tanggung jawab yang lebih besar. Tantangan ke depan masih terbentang:
menjaga konsistensi produksi, menghadapi perubahan iklim, mendorong regenerasi
petani, serta memastikan keberlanjutan lingkungan.
Namun, semangat kebersamaan yang terlihat di Palak Siring Kemumu memberi
optimisme bahwa tantangan tersebut dapat dihadapi. Ketika petani, pemerintah,
dan seluruh elemen bangsa berjalan seiring, swasembada pangan bukan sekadar
slogan, melainkan realitas yang dapat dipertahankan.






Komentar
Posting Komentar