Pagi itu, suasana persawahan Desa Sumber Agung tampak berbeda dari biasanya. Di sela hamparan tanaman yang tumbuh rapi, terjalin pertemuan sederhana namun sarat makna antara petani dan para pendamping pertanian. Kegiatan anjangsana yang dilakukan oleh Korluh BPP Arma Jaya, Nuryani, SP, bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sumber Agung bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan wujud nyata kehadiran negara di tengah denyut kehidupan petani. Dari foto kegiatan tersebut, terpancar suasana dialog yang hangat, setara, dan penuh keterbukaan—sebuah cermin pendekatan pembangunan pertanian yang semakin humanis dan partisipatif.
![]() |
| Anjang Sana Petani di Lahan Sumber Agung |
Anjangsana petani menjadi medium penting untuk mendekatkan kebijakan dengan realitas lapangan. Di sinilah suara petani menemukan ruangnya, dan di sinilah pula kebijakan diuji relevansinya. Kehadiran Korluh dan PPL tidak sekadar membawa program, tetapi juga telinga untuk mendengar, hati untuk memahami, dan pengetahuan untuk menawarkan solusi.
Mendengar Keluhan Petani: Potret
Nyata Tantangan di Lapangan
Dalam dialog yang berlangsung di pematang sawah maupun di sela pertemuan
kelompok tani, para petani menyampaikan berbagai keluhan yang selama ini mereka
hadapi. Mulai dari persoalan klasik seperti ketersediaan pupuk bersubsidi,
perubahan iklim yang sulit diprediksi, hingga meningkatnya biaya produksi yang
tidak selalu sebanding dengan harga hasil panen. Ada pula kekhawatiran tentang
serangan hama, kualitas benih, serta keterbatasan akses terhadap alat dan mesin
pertanian.
Keluhan tersebut tidak disampaikan dengan nada keluh kesah semata,
melainkan sebagai ungkapan kegelisahan petani yang menggantungkan hidupnya pada
sektor pertanian. Dalam foto kegiatan, terlihat para petani menyampaikan
pendapat dengan gestur terbuka, sementara Korluh dan PPL mencatat, mengangguk, dan
sesekali menanggapi—menandakan proses komunikasi dua arah yang berjalan sehat.
Mendengar keluhan petani merupakan langkah awal yang krusial. Tanpa
pemahaman lapangan yang utuh, kebijakan berisiko menjadi sekadar konsep di atas
kertas. Oleh karena itu, peran Korluh dan PPL sebagai jembatan antara petani
dan pemerintah menjadi sangat strategis. Mereka bukan hanya penyampai program,
tetapi juga penerjemah kebutuhan riil petani ke dalam bahasa kebijakan.
Penyuluhan sebagai Ruang Edukasi
dan Pemberdayaan
Selain mendengar, anjangsana ini juga menjadi momentum penyampaian inovasi
dan kebijakan baru dari Kementerian Pertanian. Nuryani, SP, sebagai Korluh BPP
Arma Jaya, menjelaskan berbagai arah kebijakan pertanian nasional yang saat ini
tengah digalakkan. Di antaranya adalah penguatan ketahanan pangan, peningkatan
produktivitas melalui teknologi tepat guna, serta efisiensi biaya produksi
dengan pendekatan pertanian berkelanjutan.
Inovasi yang disampaikan tidak bersifat abstrak. Justru, penyuluhan
dilakukan dengan bahasa sederhana dan contoh konkret yang dekat dengan
keseharian petani. Mulai dari penggunaan varietas unggul adaptif, pengelolaan
lahan yang lebih ramah lingkungan, hingga pemanfaatan alat mesin pertanian
(alsintan) untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja. Dalam foto kegiatan,
tampak petani menyimak dengan serius, menandakan bahwa informasi yang
disampaikan relevan dengan kebutuhan mereka.
Pendekatan ini menunjukkan pergeseran paradigma penyuluhan: dari sekadar
transfer pengetahuan menjadi proses pemberdayaan. Petani tidak lagi diposisikan
sebagai objek, melainkan sebagai subjek pembangunan yang diajak berpikir,
berdiskusi, dan mengambil keputusan.
Kebijakan Baru Kementerian
Pertanian: Dari Program ke Aksi Nyata
Salah satu poin penting dalam anjangsana ini adalah penjelasan mengenai
kebijakan baru Kementerian Pertanian yang menekankan sinergi pusat dan daerah.
Kebijakan tersebut diarahkan agar program nasional benar-benar menyentuh petani
kecil, termasuk melalui pendampingan intensif oleh PPL dan optimalisasi peran
BPP sebagai pusat data, informasi, dan inovasi.
Korluh BPP Arma Jaya menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan tidak hanya
diukur dari target produksi, tetapi juga dari peningkatan kesejahteraan petani.
Oleh karena itu, berbagai program diarahkan untuk menekan biaya produksi,
memperkuat kelembagaan petani, serta membuka akses pasar yang lebih adil.
Penyampaian kebijakan ini dalam suasana dialogis membuat petani merasa
dilibatkan, bukan sekadar diberi tahu.
Dari foto kegiatan, terlihat interaksi yang cair antara penyuluh dan
petani. Tidak ada sekat formal yang kaku. Hal ini mencerminkan semangat baru
dalam tata kelola pertanian: kolaboratif, adaptif, dan berbasis kebutuhan
lapangan.
Makna Anjangsana: Membangun
Kepercayaan dan Harapan
Lebih dari sekadar agenda kerja, anjangsana petani memiliki makna sosial
yang mendalam. Kehadiran Korluh dan PPL di tengah petani membangun rasa
dihargai dan diperhatikan. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor
pertanian, kepercayaan menjadi modal utama. Ketika petani merasa didengar,
mereka akan lebih terbuka terhadap inovasi dan perubahan.
Esai ini, yang terinspirasi dari foto kegiatan tersebut, menangkap esensi
bahwa pembangunan pertanian bukan hanya soal teknologi dan kebijakan, tetapi
juga tentang relasi manusia. Dialog, empati, dan pendampingan berkelanjutan
menjadi kunci untuk mewujudkan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
Penutup
Kegiatan anjangsana petani yang dilakukan oleh Korluh BPP Arma Jaya,
Nuryani, SP, bersama PPL Desa Sumber Agung adalah potret nyata pendekatan
pembangunan pertanian yang berakar pada lapangan. Melalui dialog terbuka,
keluhan petani didengar, inovasi disampaikan, dan kebijakan diterjemahkan ke
dalam konteks lokal.
Dari pertemuan sederhana di sawah dan kebun inilah harapan tumbuh. Harapan
akan pertanian yang lebih maju, petani yang lebih sejahtera, dan kebijakan yang
benar-benar berpihak. Anjangsana bukan sekadar kunjungan, melainkan langkah
kecil namun bermakna menuju masa depan pertanian Indonesia yang lebih kuat dan
berkeadilan.

Komentar
Posting Komentar