Semangat Swadaya di Tengah Bencana: Gotong Royong Petani Kemumu Menimbun Jalan Usaha Tani yang Amblas
Kronologi Bencana
Hamparan Sawah Kemumu di Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara,
bukan sekadar lanskap hijau yang memanjakan mata bagi siapa saja yang
melintasinya. Bagi masyarakat setempat, hamparan seluas ratusan hektare ini
adalah urat nadi kehidupan, sumber pangan, dan tumpuan harapan ekonomi keluarga
secara turun-temurun. Didukung oleh sistem irigasi historis yang mengalirkan
air sepanjang tahun, kawasan ini menjadi salah satu lumbung padi paling
produktif di daerah tersebut.
Namun, kelancaran aktivitas pertanian tersebut mendadak lumpuh total.
Tingginya intensitas curah hujan yang mengguyur wilayah Bengkulu Utara dalam
beberapa pekan terakhir memicu terjadinya pergeseran tanah yang masif.
Puncaknya, Jalan Usaha Tani (JUT) yang menjadi satu-satunya jalur akses utama
bagi para petani untuk menuju ke area persawahan mereka mengalami amblas parah.
Kondisi di lapangan menunjukkan kerusakan yang sangat signifikan. Badan
jalan yang semula kokoh mengeras, kini ambles ambrol ke bawah dengan kedalaman
bervariasi, menyisakan rongga-rongga tanah yang labil dan retakan menganga yang
memutus jalur transportasi. Kendaraan roda dua yang biasa digunakan petani
untuk mengangkut pupuk, bibit, maupun hasil panen sama sekali tidak dapat
melintas. Bahkan, bagi pejalan kaki sekalipun, melintasi jalur tersebut sangat
berisiko tinggi karena struktur tanah di bawahnya masih terus bergerak dan
rawan longsor susulan.
Lahirnya Gerakan Swadaya dari Akar
Rumput
Menghadapi situasi darurat yang mengancam mata pencaharian mereka,
masyarakat petani Kemumu memilih untuk tidak tinggal diam atau sekadar
berpangku tangan menunggu bantuan formal pemerintah yang biasanya membutuhkan
proses birokrasi dan waktu anggaran yang tidak sebentar. Bagi petani, waktu
adalah segalanya; setiap hari jalan itu terputus, setiap hari pula komoditas
pangan mereka terancam rusak.

Bupati meninjau lokasi longsor jalan usahatani Kemumu
Dipelopori oleh para ketua Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok
Tani (Gapoktan) setempat, digelarlah musyawarah darurat di gubuk pertemuan
sawah. Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, tercetuslah sebuah
kesepakatan bulat: jalan ini harus segera diperbaiki secara mandiri agar
aktivitas produksi bisa kembali berjalan. Dari sinilah gerakan swadaya murni
masyarakat dimulai.
Masyarakat secara sukarela mengumpulkan sumbangan, baik dalam bentuk
materiil maupun non-materiil. Petani yang memiliki rezeki lebih menyumbangkan
dana tunai, sementara yang lain menyumbangkan material berupa tanah urukan dan
batu koral yang diambil dari sekitar lingkungan mereka. Tidak kalah penting,
mereka yang tidak memiliki materi menyumbangkan tenaga dan alat-alat kerja
pertanian seadanya, seperti cangkul, sekop, kereta dorong (angkong),
hingga parang.
Sifat gotong royong yang menjadi warisan leluhur masyarakat Kemumu kembali
hidup dan menguat di tengah kepungan bencana. Rencana aksi segera disusun
bersama. Mereka membagi tugas secara adil: ada kelompok yang bertugas
mengangkut koral dari aliran sungai, ada yang menggali tanah timbunan, dan ada
pula yang bersiap di lokasi amblas untuk meratakan material. Gerakan akar
rumput ini membuktikan bahwa kemandirian komunitas petani di Bengkulu Utara
sangat solid saat menghadapi masa-masa sulit.
Sinergi di Lapangan – Aksi Gotong
Royong Masif Masyarakat
Pada hari yang telah ditentukan, sejak pagi buta, kawasan Hamparan Sawah
Kemumu yang biasanya tenang oleh suara gemercik air irigasi berubah riuh oleh
derap langkah kaki dan gemerincing alat-alat besi. Ratusan petani, tua maupun
muda, tumpah ruah ke lokasi amblasnya jalan usaha tani. Suasana kebersamaan
begitu kental terasa, menghapus sekat-sekat perbedaan demi satu tujuan bersama:
mengembalikan akses jalan penopang hidup mereka.
Proses penimbunan kembali jalan yang amblas ini bukanlah pekerjaan yang
ringan. Volume tanah yang longsor dan amblas cukup luas, sehingga membutuhkan
material timbunan yang sangat banyak. Dengan sistem berantai dan bergotong
royong, batu koral dan tanah disalurkan dari tangan ke tangan, diangkut
menggunakan kereta dorong, dan dihamparkan lapis demi lapis ke dalam area jalan
yang amblas.

Kegiatan Gotong Royong menimbun jalan usaha tani yang amblas
Proses Teknis Penimbunan Swadaya: Untuk memastikan jalan tidak kembali amblas saat dilalui beban berat,
petani menerapkan metode pelapisan tradisional. Bagian dasar retakan yang dalam
terlebih dahulu disumpal menggunakan batu-batu kali berukuran besar sebagai
fondasi (base coarse). Setelah rongga bawah dirasa padat, lapisan di
atasnya ditimbun dengan tanah urukan subur yang dicampur dengan batu koral
halus. Campuran ini kemudian dipadatkan secara manual dengan cara diinjak-injak
secara masif dan ditumbuk menggunakan balok kayu.
Setiap tetes keringat yang jatuh di atas tanah Kemumu hari itu menjadi
saksi bisu betapa besarnya ketergantungan dan kecintaan masyarakat terhadap
lahan pertanian mereka. Tidak ada keluh kesah yang terdengar; yang ada hanyalah
gurauan khas petani penyemangat kerja dan semangat yang terus membara di bawah
terik matahari pagi.
Kehadiran Pemimpin dan Pembina
Teknis – Dukungan Moril dari Pemerintah
Aksi heroik spontanitas yang ditunjukkan oleh masyarakat petani Kemumu ini
menarik perhatian besar dari jajaran Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara.
Sebagai bentuk apresiasi, dukungan moril, dan validasi kehadiran negara di
tengah kesulitan warga, Bupati Bengkulu Utara turun langsung ke lokasi gotong
royong. Kehadiran orang nomor satu di kabupaten ini mengejutkan sekaligus
membakar semangat para petani yang sedang bekerja.
Tidak datang sendiri, Bupati hadir didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian
Kabupaten Bengkulu Utara beserta jajaran kabid terkait. Selain itu, tampak
hadir pula di lapangan Koordinator Penyuluh (Korluh) Pertanian dan seluruh
jajaran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP)
Arma Jaya yang selama ini menjadi mitra terdekat petani dalam membina teknis
budi daya di wilayah Kemumu.
Bupati Bengkulu Utara dalam arahannya di sela-sela kegiatan gotong royong
menyampaikan rasa kagum dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas inisiatif
luar biasa masyarakat Kemumu. Beliau menegaskan bahwa budaya gotong royong
seperti inilah yang menjadi modal sosial terbesar daerah dalam mempercepat
pembangunan, terutama dalam situasi tanggap darurat bencana yang membutuhkan
penanganan instan.
Di sisi lain, kehadiran Dinas Pertanian serta Korluh dan Penyuluh BPP Arma
Jaya memberikan dimensi teknis pada kegiatan tersebut. Para penyuluh tidak hanya
ikut mengayunkan cangkul bersama petani, tetapi juga memberikan masukan taktis
mengenai bagaimana menjaga stabilitas tanah di sekitar jalan usaha tani agar
tidak mengganggu saluran irigasi teknis yang berada tepat di sisi jalan.
Sinergi antara kebijakan pemerintah, bimbingan teknis penyuluh, dan eksekusi
nyata dari masyarakat menciptakan sebuah harmoni penanggulangan bencana yang
sangat efektif.
Berkat kerja keras yang terintegrasi antara swadaya masyarakat dan dukungan
penuh dari pemerintah daerah, menjelang siang hari, bentangan jalan usaha tani
yang semula amblas dan terputus total berhasil ditimbun kembali. Jalan tersebut
kini sudah kembali rata, padat, dan kokoh untuk dilewati. Meskipun sifatnya
masih merupakan penanganan darurat (temporary repair), fungsi utama
jalan sebagai jalur logistik pertanian telah pulih sepenuhnya.
Para petani kini sudah bisa kembali tersenyum lega. Mereka dapat kembali
berjalan kaki dan mengendarai sepeda motor menuju lokasi usaha tani
masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Pupuk dapat
didistribusikan tepat waktu, dan kekhawatiran akan mundurnya jadwal panen atau
rusaknya kualitas gabah akibat keterlambatan penanganan seketika sirna. Roda
ekonomi di Hamparan Sawah Kemumu pun kembali berputar pasca-lumpuh.
Namun, kegiatan gotong royong ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan
sebuah awal dari langkah antisipasi yang lebih panjang. Dinas Pertanian
Bengkulu Utara bersama BPP Arma Jaya langsung melakukan pemetaan dan evaluasi
teknis pasca-kejadian. Mengingat cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di
masa depan, diperlukan perencanaan pembangunan infrastruktur pertanian yang
lebih permanen dan ramah bencana, seperti pembuatan talud atau dinding penahan
tanah (TPT) di titik-titik rawan longsor sepanjang JUT Kemumu.
Peristiwa amblasnya jalan usaha tani di Kemumu ini memberikan pelajaran
berharga bagi semua pihak. Bencana alam boleh saja merusak infrastruktur fisik,
tetapi ia tidak akan mampu meruntuhkan semangat kebersamaan masyarakat yang
kokoh. Melalui swadaya dan gotong royong yang dihadiri langsung oleh Bupati dan
instansi terkait, masyarakat Kemumu tidak hanya berhasil menyelamatkan sawah
mereka, tetapi juga telah mengukir sebuah cerita inspiratif tentang arti sejati
dari kemandirian, kemitraan, dan ketahanan pangan sejati.
Komentar
Posting Komentar